Untuk apa Kau Habiskan Waktumu?

ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280


Waktumu, Untuk Apa Kau habiskan?

Waktu benar-benar bukanlah milik kita. Buktinya: Allah ta’ala meminta pertanggung jawabannya.
Sungguh celaka orang-orang yang menggunakan apa yang menjadi milik Allah ta’ala justru untuk bermaksiat kepada-Nya.

Semoga, Allah ta’ala mengampuni semua kelalaian kita. Amin!

Sahabatku, banyak dari kita yang melewatkan waktunya dalam perkara yang mubah bahkan haram.

Alloh ta’ala banyak mengingatkan kita dalam masalah waktu, di antaranya dalam  beberapa awal surat Al-Quran Dia bersumpah dengan waktu, seperti dalam surat Al-Fajar, Al-Lail, Ad-Dhuha dan Al-Ashr. Hal itu menunjukkan besarnya kedudukan waktu di sisi Allah Ta’ala. Berbicara tentang waktu, maka berarti kita berbicara tentang umur kita. Karena sesungguhnya umur kita bukan saja dihitung dalam bilangan tahun, tetapi juga bulan, hari, jam, menit hingga detik-detik yang kita lalui. Ketika kita duduk di tempat ini sekarang ini, kita sudah menghabiskan sekian bagian dari umur kita. Maka ketika ada sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa di akhirat nanti ada pertanyaan  kepada setiap orang tentang “Umurnya, untuk apa dia habiskan?” (HR. Tirmizi), terjemah praktis dari hadits tersebut adalah: “Waktumu, untuk apa kau habiskan?”      Di sisi lain, berbicara tentang waktu, sesungguhnya kita berbicara tentang nikmat Allah yang sangat berharga. Betapa tidak, waktu lapang yang tersedia adalah unsur asasi bagi kita untuk dapat merealisasikan apa saja yang kita inginkan di dunia ini.  Namun kenyataan yang kita dapatkan adalah justru nikmat inilah yang paling sering terabaikan. Rasulullah  mengingatkan kita dalam hal ini dengan sabdanya, “ “Dua nikmat besar yang sering diabaikan manusia; kesehatan dan waktu luang.”  (HR. Bukhari)

Banyak orang yang menyesal habis bahkan menangis tersedu-sedu jika kehilangan harta benda yang dimilikinya. Namun di sisi lain, ketika waktu-waktunya berlalu tanpa manfaat, baik untuk dunia maupun akhiratnya, dia masih sempat tersenyum bahkan tertawa riang gembira. Ironisnya hal tersebut justru sering terjadi dalam masyarakat muslim yang seharusnya berada di barisan terdepan dalam hal memanfaatkan waktu seoptimal mungkin. Berjam-jam dalam sehari atau sepekan di depan televisi, ngobrol yang tak jelas ujung pangkalnya, nongkrong di warung atau pinggir jalan, adalah sedikit dari sekian banyak fenonema yang tidak menghargai waktu. Uniknya, ketika ditanya mengapa tidak terlibat dalam kegiatan positif semisal pengajian atau semacamnya, seringkali alasannya adalah: “Tidak ada waktu!

Dari sini, menjadi sangat penting bagi kita untuk selalu menyegarkan ingatan tentang kedudukan waktu dan nilainya yang sangat  besar. Karena dengan kesadaran tersebut menjadi langkah utama bagi kita untuk memanfaatkan waktu kita semaksimal mungkin. {khb}

ADSENSE 336 x 280 dan ADSENSE Link Ads 200 x 90

0 Response to "Untuk apa Kau Habiskan Waktumu?"

Posting Komentar